Rabu, 23 Juli 2008

Jabatan Bingung

Masih soal Inggris mengInggris. Buat Anda yang kerja di industri kreatif, mari kita lihat kartu nama kita. Ada gak yang jabatannya dijabarkan dalam Bahasa Indonesia? Kayaknya jadi penuh kartu nama kita (mungkin) kalau jabatan kita ditulis dalam Bahasa Indonesia. Seperti saya, Copywriter yang dalam bahasa Indonesia Penulis Naskah Iklan. Di industri yang bergerak kian dinamis, saya kira banyak jabatan lain di industri ini yang akan terdengar sangat aneh dalam bahasa Indonesia.

Belum lama ini ada satu kejadian yang lucu tapi amat sangat tragis di kantor saya. Ada seorang Direktur Kreatif (Creative Director) yang punya ambisi menggantikan saya sebagai Copywriter. Dengan wewenangnya, dia melenggang menyelesaikan profil perusahaan kami sendiri. Entah cari muka atau memang benar-benar merasa pintar, dia pun menuliskan teksnya sendiri tanpa pedulikan wewenang saya juga terhadap segala bentuk tulisan.

Akhirnya....Terjadilah satu peristiwa lucu, tragis dan menggemparkan dalam 1000 buku profil perusahaan saya. Dimana ada kata Indentity (maksud CD pintar saya itu Identity), Campange (maksudnya Campaign), Lounch (sekali lagi maksudnya Launch). Hebat kan? Masih ada lagi lho kata-kata yang ajaib dari beliau yang saya tidak tuliskan di sini.

Salah kaprah ini tentu tak terjadi andai saya diberi wakltu mengerjakan bagian saya. Saya memang tidak ingin jumawa dengan bilang kemampuan bahasa Inggris saya luar biasa. Tapi kan ada program Word di komputer kita yang akan bantu kita memeriksa tulisan kita. Apa mungkin CD saya yang pintar itu, perlu kursus Office juga? Entahlah....

Mungkin Anda jadi bertanya, kerja dimana sih kamu? Mending jangan deh. Nanti aja kalau profil perusahaannya udah dibkin baru lagi dengan saya yang mengerjakan setiap bagian penulisannya tanpa perlu campur tangan si pemegang jabatan bingung itu hehehehehe....

-do-

ACI...Aku Cinta Indonesia atau Inggris?

Tergelitik saya jadinya membaca jeritan hati Sang Putri. Ironis ya, begitu sering kita merasa begitu bingung dengan bahasa ibu kita sendiri. Tapi lihat deh, masihkah bisa kita katakan bahasa Indonesia itu bahasa ibu kita?

Pikir lagi! (Hampir saja saya tulis dengan Think Again! Wah....) Coba kita jalan-jalan ke sekolah-sekolah kita. Masihkah diajar bahasa Indonesia di sana? Tentu tidak. Karena rata-rata dengan alih-alih menuju dunia global, setiap anak dipaksa belajar bahasa lainnya. Salahkah itu? Ya, menurut saya. Kenapa? Karena seorang anak itu akan jadi rancu pola pikir berbahasanya. itu karena secara alamiah, seorang anak lebih baik berkembang dan mengembangkan dirinya di satu bahasa dulu. Tapi saya bukan ahlinya, komentar saya di atas saya tuliskan karena buku hypnosis yang saya baca, dimana membuat saya mengerti seorang anak hingga usia 12 tahun masih menggunakan pikiran bawah sadarnya yang memiliki kekuatan 88% untuk memikirkan, menciptakan & melakukan segala sesuatu dalam sepanjang umur manusia.

Eniwei (ini bahasa indonesia dari Anyway), mari cek kotak surat elektronik kita (yang dalam bahasa Inggris Email Inbox), apakah bahasa yang kita gunakan Indonesia? Atau telepon genggam kita? Alasannya sama dengan Putri...Bingung. Lha wong download jadi mengunduh, browsing jadi ada satu istilah lagi, saya lupa perlu dicek dulu hehehehehe.....

Tidak bisa dipungkiri, bahasa Inggris dapat mengungkapkan sebuah makna kalimat dalam jumlah kata yang singkat. Hal ini berbeda dengan bahasa Indonesia. Saya sering merasakannya saat ingin membuat tulisan, terutama judul. Tapi ini sekali lagi apakah hanya satu dilema yang melanda saya atau para penulis iklan pada umumnya, saya tidak berhak menarik kesimpulan. Saya hanya meretaskan keresahan saya saja tanpa bermaksud menjeneralisasi (lagi-lagi ini bahasa Indonesia dari generalisation).

Jalan-jalan ke sekolah dalam pikiran membuat saya ingat akan sebuah acara TV. ACI alias Aku Cinta Indonesia. Masihkah itu ada di hati kita para anak muda Indonesia? Atau itu tertinggal di benak kita hanya sebagai onggokan slogan semata bahkan acara TV masa silam? Haruskah itu diganti dengan Aku Cinta Inggris? Sebab dengan berbahasalah seseorang diketahui asalnya, budaya dan budinya. Memang bahasa Inggris itu bahasa dunia yang katanya mampu membuat kita unjuk gigi di mata dunia. Tapi benarkah demikian, sementara ada bangsa yang begitu bangga dengan bahasanya secara nyata menjadi salah satu negara terkemuka dunia?

Saya rasa itu bukan alasan. Yang membuat kita bangga sebagai penduduk dunia dan layak bangga unjuk gigi di mata dunia adalah apa yang kita buat dalam hidup kita. Bagaimana kita menjalankan hidup kita, tanpa kehilangan identitas kita sebagai anak bangsa yang bangga menggunakan bahasanya.

Bagaimana menurut Anda?

I love Bahasa Indonesia (?)

Kemarin, aku & Dwi buat blog ini. Aku yang sign in pertama kali.

Sesudah account-nya jadi, mulai kebingungan dimulai.

Karena..instruksinya berbahasa Indonesia.

Mulai aku mengeluh ke Dwi via YM.

P: Wi, ini gue bingung nih mau nulis profil.

D: Lho, kenapa?

P: Command-nya bahasa Indonesia gini, nggak ngerti jadinya.

Dalam perjalanan pulang, aku jadi mikir betapa ironisnya kejadian kecil tersebut.

Kok ya bisa, aku, orang Indonesia yang lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, berteman dengan orang-orang Indonesia dan sehari-hari menggunakan Bahasa Indonesia bisa bingung sama bahasanya sendiri.

Kemudian, aku runtun kejadian ke belakang.

Aku bekerja di sebuah brand activation agency multinational di bilangan Jakarta Selatan.

Jobdesc utamaku adalah membuat konsep untuk kampanye promosi sebuah brand.

Singkatnya, kerjaanku itu pada dasarnya adalah nulis proposal.

Kembali ke ironis, aku baru menyadari kalau 95% proposal konsep yang aku buat menggunakan bahasa Inggris, begitu juga report-report, market research, dll..

Ketika (jarang banget) membuat konsep dalam Bahasa Indonesia, sekali lagi aku malah suka bingung. Kadang harus berpikir panjang, seperti..apa ya Bahasa Indonesianya platform? Atau, apa ya Bahasa Indonesianya proposition? Proposisi.. But wait, apakah itu Bahasa Indonesia yang benar? Lucu. Ternyata untuk pake bahasa sendiri pun aku masih butuh kamus.

Jika konsep digunakan untuk brand-brand regional, mungkin bahasa Inggris memang harus digunakan. Karena bos-bos besar company seperti ini biasanya para bule. Lagipula, kalau program berhasil, tidak jarang juga konsep di-share ke regional, jadi ya harus berbahasa Inggris.

Berurusan dengan brand regional, pake bahasa Inggris, FINE. Tapi ketika itu brand lokal, dimana semua orang yang bekerja disitu orang Indonesia, kenapa juga ya aku harus nulis konsep berbahasa Inggris?

Ironis nggak? Menurutku sih iya..

Kenapa juga mesti pakai bahasa Inggris kalau klienku orang-orang Indonesia?

Memang sih tidak pernah ada aturan untuk menulis proposal dalam bahasa Inggris, tapi entah kenapa, it just happened.

Bosku bilang, kalau pakai bahasa Inggris somehow kita jadi kelihatan & kedengaran “pinter”. Masa?

Ada juga yang pernah bilang (aku lupa siapa) kalau pakai bahasa Inggris membuat orang jadi keliahatan status sosialnya. Kelihatan intelek gitu.. Sekali lagi, MASA????

Coba kita tilik ke negara lain, contoh Jepang. Secara general orang Jepang jarang sekali menggunakan bahasa asing di kehidupan sehari-hari. Bahkan, sebagian besar dari mereka tidak familier dengan bahasa Inggris. Semua buku diterjemahkan ke bahasa lokal, film-film asing di-dubbing, signage, semuanyaaaa pakai bahasa Jepang. Terus, apakah dengan begini orang Jepang nggak pinter? Siapa yang berani bilang begitu? Hayo!

Pada dasarnya, menurutku ini bukan masalah pinter atau nggak. Tapi masalah cinta.

Mungkin orang-orang Indonesia, terutama orang-orang urban, kurang cinta sama bahasanya sendiri sehingga mereka merasa perlu (atau merasa keren) memasukkan bahasa asing dalam berbagai aspek kehidupan. Bisa dalam dunia pekerjaan atau sekedar ngobrol sama teman-teman di coffee house.

Kata kurang cinta mungkin agak judgmental, tapi begitu kenyataannya. Sejak kecil kita dijejali sama hal-hal yang “keminggris”. Film, lagu, segala buku manual, dan masih banyak lagi.. Ketika masuk kuliah di jurusan Psikologi, semua diktatku pun berbahasa Inggris.

Kenapa kita kadang lebih cinta sama bahasa asing? Karena kita terbiasa. Jalaran tresno soko kulino.

Lagipula, walaupun aku sempat malu semalam karena bingung sama bahasa sendiri, aku harus mengakui kalau bahasa Indonesia itu terkadang misleading.

Dulu aku punya sebuah telepon selular dengan merk initial M. Setting awal telepon itu berbahasa Indonesia. Betapa aku pusing dibuatnya. Kenapa begitu? Satu contoh paling ektrim adalah ketika mereka menerjemahkan RING menjadi BULATAN. What the F??? BINGUNG lagi?? Ho'oh..


-Pu3-


Re: Tulisan Berkesan

Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada
penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah
konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang
pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan
saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan.
Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan
baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.


Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan
Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan. bahwa hidup telah
membawa mereka ke titik perpisahan.

Dipenggal dari suatu tulisan di http://dee-idea.blogspot.com/ oleh Dewi Lestari

Me-review tulisan Dwi:
Lihat penggalan tulisan D di atas.
Satu hal yang bisa diambil.
Sesuatu yang simpel, kata yang banyak disebut tapi sulit sekali diaplikasikan: NRIMO.
Betapa sulitnya menerima bahwa sesuatu yang kita miliki sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
Nggak seperti komputer yang dengan mudahnya di-restart, hidup nggak semudah itu.

Banyak yang bilang kalau cinta itu selamanya.
Well, I think it is such a crap.
Kalau cinta emakku ke aku, bisa..
Cinta umat pada Tuhannya, mungkin juga..
Cinta pendaki gunung terhadap alam, bisa jadi..
Tapi cinta yang bentuknya romantis? TIDAK.

Believe me people, love wears out.
Silakan bilang aku sinis atau (mungkin) para hopeless romantic akan bilang kalau aku nggak pernah nemuin real love, ya monggo.. (tapi biar tidak salah …aku sudah pernah jatuh cinta dan aku tau itu real)
Tapi ini terjadi.
Kenapa?
Duh, aku nggak punya jawaban pasti selain spekulasi.
Mungkin bosen, ada yang baru, visi masing-masing makin menjauh dan banyak faktor X lainnya.
Bagi orang-orang yang tidak beruntung mengalami ini, aku minta maaf.

Pada dasarnya, cinta bentuk ini harus sekeras mungkin di-maintain.
Ketika fase jatuh cinta lewat (kalo ini nggak bisa diapa-apain lagi deh, t@* kucing rasa coklat soalnya), mulai muncul hubungan yang realistis.
Ketika semua jadi logis, masalah mulai timbul.
Emosi lebih mudah diekspresikan, menghargai jadi lebih sulit.
Itu yang harus disikapi.
Ketika sudah berusaha maintain, meredam emosi, mencoba berkomunikasi, berpikir panjang namun tidak ada juga jalan keluar, well..

Kenapa sulit nrimo ketika hubungan romatis berakhir?
Karena memori dan histori yang begitu banyal, belongingness yang tinggi, ketergantungan, ketidakrelaan atas banyak hal and so on.. and so on..
D begitu hebat bisa sadar, menerima dan kemudian memaafkan.
Dengan begini dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, dengan pasangannya.
Tidak banyak orang yang bisa begini.

Membaca tulisannya aku lama diam.
Tidak lama, aku forward tulisan itu ke Dwi, teman baikku yang punya muatan spiritual yang tinggi dan aku tau bisa menghargai hal-hal yang bisa membuatku berpikir.

Apa saja yang aku & Dwi bahas setelah itu?
Hal-hal sebagai berikut:
1. Betapa advance pikiran D dalam menyikapi perpisahan
2. Betapa tinggi nilai spiritualnya
3. Betapa beruntung Keenan jadi anak seorang perempuan seperti itu
4. Betapa gamblang dan jujurnya cara dia menulis, sampai-sampai hal yang mungkin akan kedengaran arogan jika ditulis orang lain, D bisa menyampaikannya dengan humble
5. Betapa orang yang fanatik pasti tidak bisa menerima hal ini
6. …and DAMN! She’s a helluva writer !!

Nah, as closure, dari semua omong kosong yang aku sudah tulis di atas, kesimpulannya, selain NRIMO tadi, ada satu kesimpulan lagi yang bisa diambil, yaitu gue pingin banget bisa nulis secanggih D!!!


Cheers,
Pu3 – si suka nulis yang jarang banget punya waktu untuk nulis

Tulisan Berkesan

23/07/08

Hari ini si Putri kirimkan saya satu tulisan. Dia bilang dia tercenung saat telah selesai membacanya. Ini satu hal yang tidak biasa. Apa gerangan yg bisa gerakan hati satu perempuan unik ini? Maka, tulisan yang dimaksudkannyapun segera terpapar di jendela maya saya.

Satu kata saja. Tulisan yang dibuat oleh seorang perempuan berpikiran extraordinary, menguapkan balon2 ide2 saya ke udara. Segera mata dan hati kita bicara. Tiap katanya begitu bermakna tentang cinta yang tak lagi bisa bersama dan kerelaan hatinya untuk melepaskan cinta itu ke semesta. Tak ada penyesalan, penyalahan diriapalagi pembelaan diri. Yang terasa hanya energi keikhlasan luar biasa. Kebahagiaan terletak di tangan kita sendiri dan mulailah bahagia saat ini.

Sebab hanya saat ini yang kita miliki. Dan saat ini adalah hadiah, bahkan setiap saat, setiap menit, setiap detik dalam hidup kita. Bangunlah dari mimpi panjangmu, masa depan itu ciptaan tanganmu.

Tiap katanya yg tercerap mata, seakan bicara dan mengkonfirmasi apa yang telah saya baca dan pelajari sebelumnya. Tidak ada maksud menggurui hanya sebuah ungkapan hati, namun mampu membuat saya dan Putri kian mengerti. Tapi percaya saya, kata-katanya mampu memutarbalikan paradigma pikir kita. Bagi yang sekedar membaca tanpa menyiapkan hati dan pikiran terbuka, siap-siap saja terkesima bahkan mungkin terluka. Kebenaran seringkali terasa menyakitkan.

Buat seorang perempuan yang luar biasa, penuh cinta dan memberi saya pengalaman baru tetnag arti mencinta. Terima kasih banyak atas pencerahanmu hari ini. Semoga kau berbahagia. Semoga kau senantiasa sehat, damai sejahtera dan bebas dari segala penderitaan.

Dwi, me-review tulisan Dewi Lestari di http://dee-idea.blogspot.com/