Rabu, 23 Juli 2008

Re: Tulisan Berkesan

Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada
penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah
konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang
pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan
saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan.
Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan
baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.


Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan
Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan. bahwa hidup telah
membawa mereka ke titik perpisahan.

Dipenggal dari suatu tulisan di http://dee-idea.blogspot.com/ oleh Dewi Lestari

Me-review tulisan Dwi:
Lihat penggalan tulisan D di atas.
Satu hal yang bisa diambil.
Sesuatu yang simpel, kata yang banyak disebut tapi sulit sekali diaplikasikan: NRIMO.
Betapa sulitnya menerima bahwa sesuatu yang kita miliki sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
Nggak seperti komputer yang dengan mudahnya di-restart, hidup nggak semudah itu.

Banyak yang bilang kalau cinta itu selamanya.
Well, I think it is such a crap.
Kalau cinta emakku ke aku, bisa..
Cinta umat pada Tuhannya, mungkin juga..
Cinta pendaki gunung terhadap alam, bisa jadi..
Tapi cinta yang bentuknya romantis? TIDAK.

Believe me people, love wears out.
Silakan bilang aku sinis atau (mungkin) para hopeless romantic akan bilang kalau aku nggak pernah nemuin real love, ya monggo.. (tapi biar tidak salah …aku sudah pernah jatuh cinta dan aku tau itu real)
Tapi ini terjadi.
Kenapa?
Duh, aku nggak punya jawaban pasti selain spekulasi.
Mungkin bosen, ada yang baru, visi masing-masing makin menjauh dan banyak faktor X lainnya.
Bagi orang-orang yang tidak beruntung mengalami ini, aku minta maaf.

Pada dasarnya, cinta bentuk ini harus sekeras mungkin di-maintain.
Ketika fase jatuh cinta lewat (kalo ini nggak bisa diapa-apain lagi deh, t@* kucing rasa coklat soalnya), mulai muncul hubungan yang realistis.
Ketika semua jadi logis, masalah mulai timbul.
Emosi lebih mudah diekspresikan, menghargai jadi lebih sulit.
Itu yang harus disikapi.
Ketika sudah berusaha maintain, meredam emosi, mencoba berkomunikasi, berpikir panjang namun tidak ada juga jalan keluar, well..

Kenapa sulit nrimo ketika hubungan romatis berakhir?
Karena memori dan histori yang begitu banyal, belongingness yang tinggi, ketergantungan, ketidakrelaan atas banyak hal and so on.. and so on..
D begitu hebat bisa sadar, menerima dan kemudian memaafkan.
Dengan begini dia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, dengan pasangannya.
Tidak banyak orang yang bisa begini.

Membaca tulisannya aku lama diam.
Tidak lama, aku forward tulisan itu ke Dwi, teman baikku yang punya muatan spiritual yang tinggi dan aku tau bisa menghargai hal-hal yang bisa membuatku berpikir.

Apa saja yang aku & Dwi bahas setelah itu?
Hal-hal sebagai berikut:
1. Betapa advance pikiran D dalam menyikapi perpisahan
2. Betapa tinggi nilai spiritualnya
3. Betapa beruntung Keenan jadi anak seorang perempuan seperti itu
4. Betapa gamblang dan jujurnya cara dia menulis, sampai-sampai hal yang mungkin akan kedengaran arogan jika ditulis orang lain, D bisa menyampaikannya dengan humble
5. Betapa orang yang fanatik pasti tidak bisa menerima hal ini
6. …and DAMN! She’s a helluva writer !!

Nah, as closure, dari semua omong kosong yang aku sudah tulis di atas, kesimpulannya, selain NRIMO tadi, ada satu kesimpulan lagi yang bisa diambil, yaitu gue pingin banget bisa nulis secanggih D!!!


Cheers,
Pu3 – si suka nulis yang jarang banget punya waktu untuk nulis

Tidak ada komentar: