Kemarin, aku & Dwi buat blog ini. Aku yang sign in pertama kali.
Sesudah account-nya jadi, mulai kebingungan dimulai.
Karena..instruksinya berbahasa Indonesia.
Mulai aku mengeluh ke Dwi via YM.
P: Wi, ini gue bingung nih mau nulis profil.
D: Lho, kenapa?
P: Command-nya bahasa Indonesia gini, nggak ngerti jadinya.
Dalam perjalanan pulang, aku jadi mikir betapa ironisnya kejadian kecil tersebut.
Kok ya bisa, aku, orang Indonesia yang lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, berteman dengan orang-orang Indonesia dan sehari-hari menggunakan Bahasa Indonesia bisa bingung sama bahasanya sendiri.
Kemudian, aku runtun kejadian ke belakang.
Aku bekerja di sebuah brand activation agency multinational di bilangan Jakarta Selatan.
Jobdesc utamaku adalah membuat konsep untuk kampanye promosi sebuah brand.
Singkatnya, kerjaanku itu pada dasarnya adalah nulis proposal.
Kembali ke ironis, aku baru menyadari kalau 95% proposal konsep yang aku buat menggunakan bahasa Inggris, begitu juga report-report, market research, dll..
Ketika (jarang banget) membuat konsep dalam Bahasa Indonesia, sekali lagi aku malah suka bingung. Kadang harus berpikir panjang, seperti..apa ya Bahasa Indonesianya platform? Atau, apa ya Bahasa Indonesianya proposition? Proposisi.. But wait, apakah itu Bahasa Indonesia yang benar? Lucu. Ternyata untuk pake bahasa sendiri pun aku masih butuh kamus.
Jika konsep digunakan untuk brand-brand regional, mungkin bahasa Inggris memang harus digunakan. Karena bos-bos besar company seperti ini biasanya para bule. Lagipula, kalau program berhasil, tidak jarang juga konsep di-share ke regional, jadi ya harus berbahasa Inggris.
Berurusan dengan brand regional, pake bahasa Inggris, FINE. Tapi ketika itu brand lokal, dimana semua orang yang bekerja disitu orang Indonesia, kenapa juga ya aku harus nulis konsep berbahasa Inggris?
Ironis nggak? Menurutku sih iya..
Kenapa juga mesti pakai bahasa Inggris kalau klienku orang-orang Indonesia?
Memang sih tidak pernah ada aturan untuk menulis proposal dalam bahasa Inggris, tapi entah kenapa, it just happened.
Bosku bilang, kalau pakai bahasa Inggris somehow kita jadi kelihatan & kedengaran “pinter”. Masa?
Ada juga yang pernah bilang (aku lupa siapa) kalau pakai bahasa Inggris membuat orang jadi keliahatan status sosialnya. Kelihatan intelek gitu.. Sekali lagi, MASA????
Coba kita tilik ke negara lain, contoh Jepang. Secara general orang Jepang jarang sekali menggunakan bahasa asing di kehidupan sehari-hari. Bahkan, sebagian besar dari mereka tidak familier dengan bahasa Inggris. Semua buku diterjemahkan ke bahasa lokal, film-film asing di-dubbing, signage, semuanyaaaa pakai bahasa Jepang. Terus, apakah dengan begini orang Jepang nggak pinter? Siapa yang berani bilang begitu? Hayo!
Pada dasarnya, menurutku ini bukan masalah pinter atau nggak. Tapi masalah cinta.
Mungkin orang-orang Indonesia, terutama orang-orang urban, kurang cinta sama bahasanya sendiri sehingga mereka merasa perlu (atau merasa keren) memasukkan bahasa asing dalam berbagai aspek kehidupan. Bisa dalam dunia pekerjaan atau sekedar ngobrol sama teman-teman di coffee house.
Kata kurang cinta mungkin agak judgmental, tapi begitu kenyataannya. Sejak kecil kita dijejali sama hal-hal yang “keminggris”. Film, lagu, segala buku manual, dan masih banyak lagi.. Ketika masuk kuliah di jurusan Psikologi, semua diktatku pun berbahasa Inggris.
Kenapa kita kadang lebih cinta sama bahasa asing? Karena kita terbiasa. Jalaran tresno soko kulino.
Lagipula, walaupun aku sempat malu semalam karena bingung sama bahasa sendiri, aku harus mengakui kalau bahasa Indonesia itu terkadang misleading.
Dulu aku punya sebuah telepon selular dengan merk initial M. Setting awal telepon itu berbahasa Indonesia. Betapa aku pusing dibuatnya. Kenapa begitu? Satu contoh paling ektrim adalah ketika mereka menerjemahkan RING menjadi BULATAN. What the F??? BINGUNG lagi?? Ho'oh..
-Pu3-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar